Senin, 24 Mei 2010

Dendrophilly, upaya menghijaukan Yogyakarta

Oleh : Moh. Jauhar al-Hakimi *)

Penomoran pohon di Jl. KH Ahmad Dahlan Yogyakarta (doc. humanisma)
Berjalanlah di jalan K.H. Ahmad Dahlan dan cermati jajaran pohon angsana (Pterocarpus indicus) yang tumbuh di sepanjang jalan itu. Yang menarik adalah adanya penomoran pohon pada setiap tanaman. Meskipun terkesan sederhana, ide penomoran pohon menjadi penting ketika secara konkret dilakukan di tengah-tengah kota.
Di Jerman, pencatatan pohon hampir-hampir dilakukan selayaknya sensus pada setiap pohon sehingga tegakan yang ada dapat terdata. Hal yang sama di Indonesia sebenarnya regulasinya pun demikian, semisal peta pohon jati yang dilakukan pihak Perhutani. Namun dalam pelaksanaan serta pengawasannya kita sering kecolongan dengan maraknya illegal logging yang dampaknya dirasakan masyarakat banyak. Hal tersebut memang lebih terkait dengan budaya masyarakat serta belum tumbuhnya kesadaran di masyarakat akan pentingnya lingkungan yang lestari.
Dendrophilly adalah sebuah kecintaan atas kemanfaatan pohon bagi lingkungannya. P.K. Ojong, pemerhati lingkungan, yang pertama kali memopulerkan istilah dendrophilly di Indonesia. Dalam kunjungannya di sebuah negara Eropa ia mengungkapkan ketakjubannya pada deretan Lagerstomia (jenis yang sama banyak tumbuh di kampus UGM) yang sedang meng-ungu dan menjadi penanda di sepanjang bulevar tersebut pada waktu-waktu tertentu.
Pohon sawo kecik (Manilkara kauki) dan sawo manila (Acrhras zapota) sebenarnya bisa menjadi penanda bagi Yogyakarta selain beringin (Ficus sp.) tentunya yang tumbuh di dua alun-alun. Kedua jenis sawo tersebut telah lama tumbuh di lingkungan keraton Yogyakarta serta Pakualaman, maupun di sekitar rumah-rumah tua di Yogyakarta. Jika kita mencermati lebih lanjut, adanya tanaman sawo tersebut dapat membantu menyediakan sumber air bersih bagi keperluan sehari-hari. Di beberapa tempat (Yogyakarta dan Jawa Tengah), terutama bangunan masjid dan langgar lama/kuno, keberadaan pohon sawo sering berdampingan dengan sumur. Bagi orang-orang tua generasi 60 tahunan, menyebut nama sawo kecik, mereka akan selalu merujuk sebuah tempat: nDalem Mangkubumen. Upaya penanaman dan peremajaan tanaman sawo kecik telah dilakukan di beberapa tempat di Yogyakarta semisal ruas jalan Malioboro, benteng Vredeburg, kampus-kampus perguruan tinggi, serta Kantor Pos Besar.
Ada pesan moral yang ditanamkan orang tua kita yang mengeramatkan pada pohon-pohon tua tertentu yang justru sering kita menanggapinya secara logika semata. Kemampuan bertahan pohon tersebut sebenarnya indikasi awal adanya sumber air bagi lingkungan tersebut serta ada hubungan timbal balik antara tanaman tersebut dengan lingkungan tempat tumbuhnya. Indigenous local yang sederhana inilah yang sering kita tangkap sebagai hal-hal yang diluar logika.
Upaya menghijaukan Yogyakarta merupakan tanggungjawab bersama, semisal dengan membebaskan kawasan Malioboro beberapa saat dari asap kendaraan setiap Minggu pagi. Sebenarnya ini bisa diterapkan pada beberapa ruas jalan atau bisa pula ditambah durasinya. Dan langkah-langkah demikian selayaknya tidak terhenti pada slogan-slogan semata. Jika mengamati ruas jalan di Jalan Lingkar Utara beberapa ratus meter dari Terminal Jombor, pernah dicanangkan aksi penanaman pohon pembawa pesan antar generasi. Sayang ide cerdas itu seolah hanya tertanam di papan pengumuman di divider Jalan Lingkar dan sering luput dari perhatian mereka yang melewati dan membacanya.
Dengan penomoran pohon, sebenarnya Yogkatarta telah memulai satu langkah penting bagi penyelamatan lingkungan, setidaknya untuk satu pohon itu dan lingkungan tempat tumbuhnya.
*) Pegiat lingkungan, tinggal di Yogyakarta
Kompas, 27 Juni 2007

Tidak ada komentar: