Semakin banyak rumah-rumah yang cantik dengan bunga warna-warni. Semakin cantik bangunan kantor dan jembatan. Taman-taman kota pun tak kalah menarik.
Dan saya sangat-sangat meminta: TEDUHKAN
Kita memerlukan suasana teduh dengan pepohonan.
PARKIRAN YANG TEDUH
HALAMAN DEPAN RUMAH YANG TEDUH
JALANAN YANG TEDUH
KANTOR YANG TEDUH
Kita memerlukan pepohonan besar dengan tajuk lebar. Untuk memberi keteduhan di iklim tropis Indonesia yang semakin panas menyengat.
Dengan POHON PENEDUH……. Bukan beton
untuk penghijauan komunitas, untuk penghijauan kota, untuk pinggir jalan, sekolah, tempat ibadah, gang, sungai, dan rumah kita. "hijau dan teduh"
Jumat, 30 April 2010
Minggu, 25 April 2010
Biji
Musim kemarau sudah lewat. Hujan mengguyur dan dedaunan yang kemarin menguning berangsur hijau. Disaat inilah biji menampakkan sayapnya, calon batang yang berarti juga sebuah kehidupan baru.
Negeri kita penuh dengan biji pepohonan. Yang siap tumbuh dan menaungi. Juga yang berserakan dan mati. Dan yang tak termanfaatkan. Biji begitu gampang untuk didapatkan. Dan jika kita mau sedikit berniat baik maka lemparkanlah biji-biji yang bertebaran itu kesemak-semak penuh rumput atau lahan kosong.
Biji-biji yang berada di atas tanah tidak akan mati. Mereka punya cukup nutrisi untuk bertahan hidup saat panas melanda dan siap untuk menumbuhkan daun, batang dan akarnya saat hujan beberapa kali mengguyur. Biji-biji baik untuk meneduhkan lahan. Yang membuat iklim mikro menjadi lebih baik dan masa depan kehidupan menjadi lebih berkualitas.
Secara sadar atau tidak kita berterima kasih pada orang-orang atau situasi yang membuat motor kita ternaungi dengan pepohonan. Lihat saja tempat parkir beratap seng yang jarang didatangi kendaraan. Masih jauh lebih nyaman berada di bawah naungan pohon yang pasti menimbulkan suasana sejuk. Semua akibat biji. Karena biji.
Di kota kita sangat-sangat banyak biji yang berserakan. Kumpulkan dan sebarkanlah. Biarkan alam yang kemudian menjalankan tugas untuk menumbuhkannya diwaktu yang tepat.
sebuah tips dari Mas Catur, Fresh Green Club
Terima Kasih
Negeri kita penuh dengan biji pepohonan. Yang siap tumbuh dan menaungi. Juga yang berserakan dan mati. Dan yang tak termanfaatkan. Biji begitu gampang untuk didapatkan. Dan jika kita mau sedikit berniat baik maka lemparkanlah biji-biji yang bertebaran itu kesemak-semak penuh rumput atau lahan kosong.
Biji-biji yang berada di atas tanah tidak akan mati. Mereka punya cukup nutrisi untuk bertahan hidup saat panas melanda dan siap untuk menumbuhkan daun, batang dan akarnya saat hujan beberapa kali mengguyur. Biji-biji baik untuk meneduhkan lahan. Yang membuat iklim mikro menjadi lebih baik dan masa depan kehidupan menjadi lebih berkualitas.
Secara sadar atau tidak kita berterima kasih pada orang-orang atau situasi yang membuat motor kita ternaungi dengan pepohonan. Lihat saja tempat parkir beratap seng yang jarang didatangi kendaraan. Masih jauh lebih nyaman berada di bawah naungan pohon yang pasti menimbulkan suasana sejuk. Semua akibat biji. Karena biji.
Di kota kita sangat-sangat banyak biji yang berserakan. Kumpulkan dan sebarkanlah. Biarkan alam yang kemudian menjalankan tugas untuk menumbuhkannya diwaktu yang tepat.
sebuah tips dari Mas Catur, Fresh Green Club
Terima Kasih
Jumat, 23 April 2010
HILANGKAN ILALANG dengan NAUNGAN
Setiap waktu, setiap minggu, setiap bulan dan seterusnya selalu saja dikeluarkan sejumlah biaya untuk merapikan halaman rumah atau gedung. Seratus atau beberapa ratus ribu itu dikeluarkan untuk memotong rumput yang sudah semakin meninggi dan merusak suasana. Memotong rumput yang mengganggu pemandangan dan menjadi sarang nyamuk.
Aktivitas itu sangat diwajarkan karena paparan sinar matahari yang langsung sampai ke tanah dan membangkitkan biji-biji tumbuhan untuk bernafas, makan dan berkembang. Mereka berlomba menggapai matahari, berdoa dan mencari sinarnya untuk membakar suapan material mentah bahan makanan dari tanah dan udara. Siapa yang lebih dulu meninggi dialah pemenang dari kehidupan dilingkungannya.
Disetiap awal dari sebuah paparan lahan yang terbuka, rumputlah pemenangnya. Selalu. Karena mereka cepat tumbuh dan memiliki akar penghisap bahan makan yang merambat panjang. Rerumputan yang jarang tumbuh di hutan alam primer. Generasi yang selalu dorman dibawah naungan pepohonan rindang. Dan kita bisa membuatnya selalu kerdil dikampus kita. Agar hemat biaya potong, teduh suasana kampus, dan segar pikiran manusia yang menuntut ilmu.
Pekarangan kantor kita lumayan banyak dan bisa menjanjikan keteduhan bagi banyak pihak. Keteduhan yang kita perlukan untuk menyegarkan pikiran. Membuat bangku atau lesehan untuk tempat diskusi dibawah naungan.
Banyak tanaman yang bisa dibiakkan untuk meneduhkan. Ada yang perlu dipelihara dari gangguan rumbut pada waktu kecil. Ada juga yang sanggup memenangkan persaingan dengan ilalang walau masih kecil. Tujuannya jelas, membuat teduh dan menghilangkan rumput dalam jangka panjang secara alami.
Entah dosen mana yang mau membiasakan untuk berdiskusi diruang terbuka kampus kita. Atau kelompok-kelompok eksekutif yang memerlukan wadah berkumpul di pinggir kantor. Masih banyak tempat. Di depan gedung itu, dibelakang ruangan ibadah dan disamping kantin sana. Memang belum sampai ada ulama yang membuat fatwa berpahala bagi yang meneduhkan tempat kerja, tapi setidaknya niatan baik kita untuk menyegarkan kota semoga bisa menenangkan jiwa yang lainnya.
Dibumi ini rumput tidak akan menjadi mahluk langka karena dihalangi tumbuhnya.
sebuah tips dari Mas Catur, Fresh Green Club
Terima Kasih
Aktivitas itu sangat diwajarkan karena paparan sinar matahari yang langsung sampai ke tanah dan membangkitkan biji-biji tumbuhan untuk bernafas, makan dan berkembang. Mereka berlomba menggapai matahari, berdoa dan mencari sinarnya untuk membakar suapan material mentah bahan makanan dari tanah dan udara. Siapa yang lebih dulu meninggi dialah pemenang dari kehidupan dilingkungannya.
Disetiap awal dari sebuah paparan lahan yang terbuka, rumputlah pemenangnya. Selalu. Karena mereka cepat tumbuh dan memiliki akar penghisap bahan makan yang merambat panjang. Rerumputan yang jarang tumbuh di hutan alam primer. Generasi yang selalu dorman dibawah naungan pepohonan rindang. Dan kita bisa membuatnya selalu kerdil dikampus kita. Agar hemat biaya potong, teduh suasana kampus, dan segar pikiran manusia yang menuntut ilmu.
Pekarangan kantor kita lumayan banyak dan bisa menjanjikan keteduhan bagi banyak pihak. Keteduhan yang kita perlukan untuk menyegarkan pikiran. Membuat bangku atau lesehan untuk tempat diskusi dibawah naungan.
Banyak tanaman yang bisa dibiakkan untuk meneduhkan. Ada yang perlu dipelihara dari gangguan rumbut pada waktu kecil. Ada juga yang sanggup memenangkan persaingan dengan ilalang walau masih kecil. Tujuannya jelas, membuat teduh dan menghilangkan rumput dalam jangka panjang secara alami.
Entah dosen mana yang mau membiasakan untuk berdiskusi diruang terbuka kampus kita. Atau kelompok-kelompok eksekutif yang memerlukan wadah berkumpul di pinggir kantor. Masih banyak tempat. Di depan gedung itu, dibelakang ruangan ibadah dan disamping kantin sana. Memang belum sampai ada ulama yang membuat fatwa berpahala bagi yang meneduhkan tempat kerja, tapi setidaknya niatan baik kita untuk menyegarkan kota semoga bisa menenangkan jiwa yang lainnya.
Dibumi ini rumput tidak akan menjadi mahluk langka karena dihalangi tumbuhnya.
sebuah tips dari Mas Catur, Fresh Green Club
Terima Kasih
Senin, 19 April 2010
Trotoar Rindang
Belajar dari Kota Jogja…
Kota ini cukup panas dan kurang aliran udara. Entah apa sebabnya, sulit mencari sepoy sepoy angin. Namun begitu yang sangat baik dimiliki adalah adanya trotoar-trotoar yang “diusahakan” rindang. Banyak jalanan disini yang memiliki trotoar dengan pepohonan rindang dikiri kanannya. Dibeberapa tempat bahkan juga ada pohon di tengah trotoar.
Hal ini sangat tidak menjadi masalah karena pengguna trotoar adalah pejalan kaki dan pesepeda yang notabene tidak memiliki atap dan AC untuk mengamankan tubuhnya. Pohon rindang adalah atap sekaligus udara penyejuk bagi pengguna trotoar, bahkan lebih sehat dibanding AC beneran.
Kampanye memperbanyak pohon peneduh perlu dilakukan agar pimpinan-pimpinan institusi sadar pentingnya kesegaran psikologis dan raga bagi anak buahnya. Kampanye ini juga penting bagi warga pemilik rumah agar para tamu senang datang, memuji, dan meniru hal baik dari tuan rumah.
Kampanye ini baik bagi pasar dan mall yang penuh manusia, traffic light yang berpotensi penuh klakson dan makian supir, pinggir sungai dan lereng gunung yang menyimpan air dan berpotensi longsor.
Mulailah dari trotoar rindang... seperti di Jogja.
Info dan Tips dari Mas Catur
Fresh Green Club… Terima Kasih
Langganan:
Postingan (Atom)