Selasa, 22 Juni 2010

MENGGAMBAR NYANYIAN BURUNG

pernahkah kita menggambar kicau indah burung di pagi hari ? saat pepohonan menyambut sinar mentari.

kicau hadir dari balik dedaunan. bersama berlariannya kumbang dan semut pohon. kicau mereka adalaha harmoni bagi pejalan kaki, penyapu serasah, dan orang-orang yang jogging. nikmatnya terasa dan tak terasa.

kicaunya bagai lukisan tak bergambar. mewarnai langit, menyapu kesunyian.
kicaunya hadir sebagai aura pepohonan rindang.
kicaunya... pengobat kepenatan dan sepi.

hanya karena pohon mereka ada.
hanya karena batang dan ranting kicaunya menggema.
hanya karena DIA semua tetap terpelihara.

kitalah tangan-tangan Tuhan tuk segarkan alam.
menanam. dan memelihara rumah-rumah bagi kicau pagi yang indah.
kita.... hanya kita.... yang diperintah oleh NYA tuk jaga bumi dengan segala indahnya

MAHA INDAH TUHAN DENGAN SEGALA KEBESARANNYA

Senin, 21 Juni 2010

SERASAH

BENDA MATI ini menjadi alasan bagi pimpinan atau petugas kebersihan sebuah instansi untuk menebang pohon. kabel listrik pun menjadi alasan lainnya.

belum banyak teknologi atau aktivitas termudah untuk mengolah serasah untuk menjadi kompos atau hal lain yang bermanfaat. membayar gaji petugas kebersihan memang tidak sedikit, namun menebang pohon karena alasan efisiensi dan kebersihan kayaknya juga tidak benar.

kita tahu bumi semakin panas dan pejalan kaki semakin sengsara. tapi banyak dari kita yang tidak menyadari pentingnya pepohonan rindang untuk membuat suasana kerja dan belajar menjadi sejuk. kita perlu tempat parkir yang sejuk, bukan hanya hamparan beton yang jelas akan merusak ban dan body kendaraan. kita juga perlu pepohonan untuk mengurangi penggunaan ac. dan kita perlu pepohonan untuk memperluas areal nongkrong pegawai atau siswa sekolah.

SERASAH masih menjadi alasan bagi dekan ku untuk memerintahkan mahasiswa menebang pohon ketapang di samping musholla. SERASAH dan kabel listrik menjadi justifikasi bagi ketua laboratorium menebang pohon di halaman kantornya.

ya... saya baru bisa berkata... tolonglah, jangan ditebang... pangkas aja dahan yang mengganggu, jangan pohonnya.

Minggu, 20 Juni 2010

HUTAN KOTA kita perlu BENAR dan DITAMBAH

(dari dialog hijauteduh.com di metro fm)

Dari dialog radio yang saya lakukan diketahui bahwa luasan hutan kita di Samarinda masih memenuhi syarat yang tepat yaitu 10% dari luasan kota. Hal ini merupakan peluang bagi pemerintah dan masyarakat kota untuk segera menetapkan areal-areal lain agar menjadi hutan kota. Selain itu perlu diketahui bahwa masih sekitar 60 sampai 70 persen luasan kota samarinda berupa hutan dan alang-alang. Kita bisa membuat sampai 20% hutan kota dengan kondisi ini.

Hutan kota penting bagi seluruh masyarakat. Kita perlu udara segar untuk lebih dari enam ratus ribu jiwa yang tinggal di kota ini. Kita perlu cuaca yang sejuk untuk aktivitas berusaha bersosial berkeluarga. Kita perlu pengaman air tanah dan pelindung dari cuaca ekstrim. Kita perlu pepohonan tempat burung-burung bernyanyi dan kupu-kupu yang mewarnai udara.

Hutan kota dapat juga dipergunakan sebagai areal rekreasi sepanjang tetap menghadirkan iklim mikro yang sejuk saat berada didalamnya.

Konsep hutan kota bertipe 'singapura' adalah konsep yang mengimpikan seluruh kota dengan segala bangunannya adalah juga hutan. Harus ada pepohonan di setiap halaman. Konsep hutan kota bertipe 'new york' membuat hutan menjadi terpusat ditengah kota atau tersebar sporadis diberbagai tempat. Samarinda mengikuti pola hutan new york. Saya sangat setuju hal tersebut agar sekaligus ada tempat bermain dialam yang cukup luas bagi warga. Dan saya lebih setuju lagi bila ada peraturan yang mengharuskan (atau diberi insentif) setiap ukuran tanah tertentu agar menghadirkan pohon besar dengan ukuran tajuk tertentu.

Kita perlu pepohonan di sekitar rumah. Kita perlu pepohonan untuk mengurangi pemakaian ac yang boros. Kita perlu pepohonan untuk melindungi motor dan mobil saat ditempat parkir. Kita juga perlu pepohonan di dekat traffic light untuk mengurangi polusi dan menjaga emosi saat berhenti agak lama.

Hutan kota kita perlu ada, sekitar tempat aktivitas kita juga perlu ada.

Kamis, 17 Juni 2010

Hijau Dari Air Hujan

hujan hujan lagi
air mengalir sampai jauh ke bawah tanah
menyegarkan dedaunan
membangkitkan kegembiraan

daun dan pepohonan, tangkap dan simpan mereka
butiran butiran kesegaran
smoga tak jadi bencana
smoga menjadi sejahtera

Jumat, 11 Juni 2010

obat herbal (versi 2)

Obat herbal adalah obat yang berasal dari tumbuhan yang diproses/ diekstrak sedemikian rupa sehingga menjadi serbuk, pil atau cairan yang dalam prosesnya tidak menggunakan zat kimia. Misalnya jamu, obat tolak angin cair, dsb. Seperti kita ketahui obat herbal dapat menyembuhkan penyakit dengan efek samping yang minim karena dibuat dari bahan-bahan yang alami, tidak seperti obat-obat sintetis yang dapat memberikan efek samping baik secara langsung maupun setelah waktu yang lama.

Sedangkan definisi pengobatan herbal (herbalism) adalah pengobatan tradisional atau pengobatan rakyat mempraktekkan yang didasarkan pada pemakaian tumbuhan-tumbuhan dan ekstrak tumbuhan. Herbalism juga dikenal sebagai pengobatan berkenaan dengan penggunaan tumbuhan untuk pengobatan, medis secara herbal, obat herbal, herbology, dan phytotherapy. Kadang-kadang lingkup dari obat bahan tumbuhan yang dipergunakan diperluas termasuk produk-produk jamur dan lebah, mineral-mineral, kulit/kerang-kulit/kerang dan bagian binatang tertentu.

(herbalqu.blogspot.com)

Herbalogi
Herbalogi berasal dari kata ‘Herba’ yang berarti tumbuhan dan ‘logi’ atau ‘logos’ yang berarti ilmu. Dengan demikian Herbalogi adalah ilmu yang mempelajari segala sesuatu yang berkait dengan tumbuh-tumbuhan. Dalam dunia pengobatan herbalogi dipahami sebagai sebuah konsep atau metode pengobatan dengan menggunakan bahan-bahan yang berasal dari herba (tanaman obat).

Konsep Pengobatan Herbal
1.Pendekatan yang dipakai bersifat holistic. Tubuh manusia dipandang memiliki suatu system harmoni yang selalu seimbang; tidak berfungsinya satu bagian tubuh menyebabkan ketidakseimbangan dibagian tubuh yang lain. Jika tubuh tidak mampu melakukan penyeimbangan kembali seperti keadaan semula, maka akan tibul suatu penyakit. Salah satu tujuan dari pengobatan herbal adalah membantu tubuh mengembalikan keharmonisan atau keseimbangan tubuh.
2.Selain dari faktor eksternal, pengobatan herba memahami bahwa dari dalam diri manusia terdapat kekuatan penyembuh yang datang dari faktor Spiritual, emosional, mental, dan fisikal. Kekuatan penyembuh tersebut dalam dunia medis modern dikenal dengan Sistem Imun.
3.Sistem Imun menjadi penentu utama sehat atau sakitnya seseorang. Herbalogi menaruh perhatian besar terhadap masalah imunity tersebut. Sehingga tujuan pengobatan adalah diarahkan untuk “Improve and maintain body immune system against external pathogen and pressure”.
4.Menggunakan semurni-murninya bahan dari herba sebagai obat, tanpa tambahan zat kimia sintetis.

Perbedaan Pengobatan Herbal dengan Pengobatan Kimia Sintetis
Konsep Pengobatan Herbal sangat berbeda dengan konsep pengobatan Modern (yang biasanya menggunakan Kimia Sintetis sebagai obat). Misalnya dalam pengobatan kimia sintetis penyebab penyakit adalah virus, bakteri, dan pathogen (mikro organisme pembawa penyakit); sedangkan dalam pengobatan herbal, penyebab penyakit adalah lemahnya system imun.

Pengobatan Kimia Sintetis Pengobatan Herbal
* Berasal dari Barat * Berasal dari Timur
* Menggunakan bahan kimia sintetis * Menggunakan bahan alamiah/organik
* Daya keterserapan 50% - 70% * Daya keterserapan 90%
* Bersifat antibiotic (racun bakteri) * Bersifat probiotik
* Menurunkan system imun * Meningkatkan system imun
* Mengobatai gejala / Symptomatic * Holistic / mengobati sumber penyakit
* Menimbulkan efek samping * Tidak ada efek samping
* Khasiat lebih cepat tetapi destruktif * Khasiat lambat tetapi konstruktif
* Kebanyakan mengandung zat haram * Halal karena murni dari tumbuhan

www.back2herbal.multiply.com"

Selasa, 08 Juni 2010

Kebun Sawit Dinilai Merusak Lingkungan

Kebun sawit yang menjamur di Sumatera dan Kalimantan dinilai merusak lingkungan walau mendatangkan banyak keuntungan finansial. Karena satu hektar hutan alam dapat menyerap sekitar satu juta meter kubik karbon, sedangkan kebun Sawit hanya mampu menyerap tiga ribu meter kubik karbon saja.

Indonesia merupakan tempat paling subur untuk kebun kelapa sawit. Selain itu, regulasi pemerintah juga mendukung tumbuh kembangnya industri-industri sawit.

Terlepas dari keuntungan finansial yang telah membuat sejumlah daerah di Indonesia makmur, kebun sawit juga telah mengakibatkan kerusakan lingkungan.

Jika satu hektar hutan alam dapat menyerap sekitar satu juta meter kubik karbon, maka satu hektar kebun Sawit hanya mampu menyerap sekitar tiga ribu meter kubik karbon.

Di Indonesia pembukaan lahan sawit dilakukan pada sebuah hutan alami, yang telah dibabat sebelumnya. Hal tersebut dapat dianggap sebagai pengkonversian lahan hutan menjadi kebun sawit.

Hal itu tentunya dapat dianggap lebih merusak lingkungan ketimbang ilegal loging, pasalnya lahan ilegal loging setelahnya dapat langsung ditanami pohon, tetapi tidak pada konversi lahan Sawit.

Berbagai macam produk turunan sawit telah membuat konsumen di Indonesia menjadi ketergantungan. Mulai dari obat-obatan, Shampoo hingga sabun.

(TRIBUNNEWS.com)

Minggu, 06 Juni 2010

OBAT HERBAL

Definisi dan teknis pengembangan herbal semakin luas sejak awal dikenal.
‘herba’ yang berarti tumbuhan secara lebih khusus cenderung identik dengan tumbuhan semak atau perdu. Pengobatan yang berbasis tumbuhan secara sederhana dimulai oleh produk jamu-jamuan.

Herbal yang saat ini lebih dikenal sebagai pengobatan dari semua jenis tumbuhan telah sangat berkembang, termasuk definisinya. Teman saya Mas Hery Romadan, seorang HERBALIS, menjelaskan bahwa herbal adalah semua jenis obat yang diambil dari tumbuhan dan bahkan hewan yang berasal dari keseluruhan bagian-bagiannya (misalnya akar saja, batang saja, susu saja), bukan dari zat tertentu yang terkandung didalamnya.

Lebih jelasnya begini: jika akar temu lawak dijadikan obat maka yang diambil sebagai herbal adalah keseluruhan dari akar tersebut, bukan dari salah satu zat dalam akar. Kalau pengobatan kimia hanya akan mengambil salah satu atau salah dua zat yang terkandung dalam akar tersebut.

Mengapa ? karena pengobatan herbal memiliki pandangan bahwa sebuah bagian dari ciptaan Tuhan tersebut berfungsi untuk tidak hanya membunuh penyakit, namun juga menjaga keseimbangan tubuh tempat penyakit bersarang.

Lebih jelasnya lagi, mungkin kita pernah dengar, bahwa dalam setiap tumbuhan atau hewan beracun terdapat anti racun yang juga terdapat didalam tubuh mahluk tersebut. KESEIMBANGAN adalah prinsip yang dipakai dalam pengobatan herbal. Dalam akar yang berkhasiat selain memiliki zat yang berguna menghancurkan sakit namun juga terdapat zat lain yang membantu keseimbangan tubuh atau daya imun tubuh.

Ciri lain dari herbal ini adalah TIDAK PAKAI BAHAN PENGAWET.

Apakah semua tanaman bisa menjadi obat herbal, hery menjawab nanti (insyaallah) bisa. Dan untuk itu kita perlu memiliki tanaman dipekarangan yang berfungsi sebagai obat herbal. Tanaman Lombok dan bunga melati pun berguna sebagai obat.

Sehat, alami, ramah lingkungan. Silahkan cari literaturnya di toko buku.

(dari perbincangan di FRESHGREENCLUB – Radio Metro, 5 Juni 2010)

Jumat, 04 Juni 2010

Hutan Kecil dan Kicau Burung Gereja

Ada ”hutan kecil” di samping rumah keluarga Jana dan Erwin Parengkuan. Dari rerimbun daun pohon beringin, puluhan burung gereja berkicau setiap pagi dan sore mengiringi kehidupan pasangan yang hidup rukun itu.

Kita punya hutan kecil lho...,” kata Erwin Parengkuan (40) sambil mengajak kami naik ke teras kecil pula di lantai dua rumahnya di bilangan Taman Pegangsaan, Jakarta.

Yang disebut hutan kecil itu adalah halaman kecil seukuran lapangan bulu tangkis dengan rimbun pepohonan seperti bambu, beringin, dan angsana. Suasana teras itu memang sangat teduh dan segar oleh hijau dedaunan. Pada rindang dedaunan itu puluhan burung gereja bersarang.

”Mereka ramai sekali berkicau sejak pukul lima pagi. Sampai pukul sepuluh mereka masih riuh berkicau. Habis itu mereka cari makan. Sekitar jam lima mereka coming back home dan kembali ramai banget,” kata Erwin bercerita tentang burung gereja yang telah menjadi bagian dari kehidupan keseharian.

Seturut terbangnya burung gereja, yang empunya rumah pun meninggalkan rumah untuk bekerja. Ada setumpuk agenda setiap hari dari Erwin yang berprofesi sebagai pemandu acara, presenter televisi, dan pengelola Talk-Inc: ini semacam lembaga pendidikan yang antara lain menyiapkan tenaga presenter televisi sampai pemandu acara.

Erwin dan istrinya, Jana Parengkuan (34), paling suka duduk-duduk di teras yang menghadap hutan kecil tadi. Mereka sering mengundang kawan-kawannya untuk datang menikmati sore atau malam di teras sambil menikmati masakan yang disiapkan Erwin atau kue-kue yang dibuat Jana. ”Hutan kecil ini memang menjadi teman untuk makan sore. Kami juga suka bercengkerama di sini pada sore hari,” katanya.

Dari teras kecil di hutan kecil dengan kicau burung gereja itu Erwin dan Jana sering mendapat inspirasi tentang hidup sehari-hari. Misalnya pernah tercetus untuk membuat usaha penjualan kue lewat internet di www.partyathome.co.id.

Sekadar catatan, halaman yang menjadi area hutan kecil itu merupakan lebihan tanah di sudut blok—kebetulan rumah Erwin terletak di ujung blok. Lebihan tanah itu memang bukan milik Erwin, tetapi ia ikut merawatnya dan menjadi area teduh di lingkungan sekitar permukiman.

Seni dan dapur
Dari lantai dua, Erwin mengajak kami naik ke lantai tiga. ”Ini namanya art area,” kata Jana menjelaskan fungsi ruang di lantai tiga yang penuh dengan kanvas lukisan itu.

Ada sebuah lukisan lanskap pedesaan di Eropa. Itu lukisan Jana, perempuan berdarah Indonesia-Cekoslowakia yang lahir di Praha. Jana memang suka melukis.

Hari itu, kami disertai empat anak mereka, yaitu Giulio (11), Marcio (8), Abielo (4), dan si bungsu Matacha yang baru berumur setahun. Matacha adalah satu-satunya anak perempuan dari Erwin-Jana. Anak-anaknya juga mulai menyukai corat-coret dan itu semua diberi ruang dalam arti sebenarnya dalam keluarga pasangan Erwin-Jana.

Di lantai itu juga ada sebuah piano yang tampaknya sudah lama tidak di-stem atau dilaras. Giulio memainkan tuts dan terdengar sepotong riff dari ”Smoke on the Water” milik Deep Purple.

Rumah memang juga cerminan hobi penghuni. Erwin dan Jana yang sama-sama suka memasak menjadikan dapur sebagai tempat yang paling menyenangkan. Dari ruang tamu, kita bisa cukup leluasa memandang dapur yang cukup luas dan bersih, menyatu dengan ruang makan.

Masih ada lagi dapur bersih atau pantry yang berada di samping ruang tamu, menghadap ke hutan kecil. Dengan ruang tamu, pantry cukup dipisahkan dengan pintu ayun (swinging door) kecil. Erwin menyempatkan diri memasak setiap akhir pekan atau setiap kali ada waktu.

”Saya dibesarkan oleh ibu yang punya usaha resto. Jadi sejak kecil saya terekspose oleh makanan sehat. Di rumah enggak ada makanan gorengan, minuman bersoda, MSG (monosodium glutamate). Kami anak-anaknya jadi ketularan. Tradisi itu kami bawa ke rumah ini,” kata Erwin yang terampil memasak masakan Barat ataupun Indonesia.

”Itu mengapa dapur menjadi istimewa di rumah ini,” kata Erwin yang menempatkan dapur sebagai tempat berkumpul keluarga dan handai tolan. Mereka bisa betah berlama-lama di sekitar dapur dan meja makan.

Dapur, ruang seni, dan hutan kecil plus kicau burung gereja tadi menjadi kehidupan keluarga Erwin penuh warna.

Maunya dekat sampai tua
Erwin Parengkuan lebih dari 20 tahun aktif di dunia komunikasi. Itu termasuk sebagai penyiar Radio Prambors serta ikut membidani lahirnya beberapa stasiun radio. Ia juga menjadi presenter televisi sampai pemandu berbagai acara dari ulang tahun perkawinan konglomerat sampai pekan olahraga nasional.

Komunikasi rupanya berawal sejak di rumahnya. Rumah berlantai tiga itu dirancang agar penghuninya bisa berkomunikasi dengan baik dari satu lantai ke lantai lain.

”Dari lantai satu, dua, dan tiga, orang mau omong apa saja juga kedengaran suaranya. Maka rumah harus terbuka supaya kegiatan anak-anak bisa terpantau,” kata Jana Parengkuan sambil menggendong si bungsu Matacha.

Tangga di setiap lantai berada di sudut kiri ruang. Akses dari satu lantai ke lantai cukup lega dan memungkinkan komunikasi yang leluasa dari satu lantai ke lantai lain. Bagi keluarga Erwin, rumah adalah tempat berkumpul keluarga dalam suasana rileks. Apalah arti sebuah rumah yang penghuninya terpisah-pisah meski bernaung di bawah atap yang sama.

”Kami ingin rumah yang hangat, enggak dingin tanpa nyawa, enggak ada spirit,” kata Erwin.

”Rumah jangan kayak galeri yang serba teratur tetapi berjarak,” kata Jana menimpali sambil menghidangkan lemon poppy seed, kue bikinannya yang terasa manis-manis lemon.

Kehangatan itu diwujudkan dengan menempatkan kamar-kamar tidur di satu lantai, yaitu di lantai dua. Terpisah tetapi berdekatan, bukan berdekatan tetapi terpisah.

”Kalau akhir pekan, kami semua bahkan tidur bersama-sama sekeluarga. Buat saya itu sebuah kemewahan,” kata Erwin.

Kedekatan keluarga pasangan Erwin-Jana juga terlihat dari puluhan foto yang dipajang sepanjang dinding menuju lantai dua. Sambil menaiki tangga, kita bisa melihat foto keluarga yang terkesan kompak, hangat, penuh kasih. Setidaknya itu narasi yang terbaca dari deretan foto keluarga.

Ekspresi anak-anak pasangan Erwin-Jana tidak bisa menyembunyikan kedekatan keluarga tersebut. Mereka adalah anak-anak yang berani, bebas, menunjukkan sikap, mengekspresikan diri, dan akrab dengan orangtua serta tamu.

”Kami maunya dekat. Bahkan, kalau bisa sampai tua nanti kami selalu begitu,” kata Erwin. (KOMPAS Minggu)